PCM Suranenggala Dorong Literasi Bahasa Arab, Perkuat Tradisi Keilmuan Kader

 

 


Belajar Bahasa Arab; serius tapi santai kepada Guru Kita Ustaz Dr.Amin Basir, Lc.,MA


Suranenggala – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Suranenggala terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas keilmuan kader melalui penguatan literasi bahasa Arab. Ketua PCM Suranenggala, Warjo,S.Sos.,S.Pd.I.,M.Pd.I.,C.FHP. secara aktif mendorong para pengurus dan warga persyarikatan untuk menekuni pembelajaran bahasa Arab sebagai kunci memahami sumber ajaran Islam secara langsung.

Dorongan tersebut tidak lepas dari teladan yang telah ditunjukkan oleh Ketua Majelis Kader PCM Suranenggala, Wasikin, yang konsisten mengembangkan kemampuan literasi bahasa Arab di kalangan kader. Semangat ini kemudian diikuti oleh para pengurus PCM lainnya sebagai bagian dari upaya membangun tradisi keilmuan yang kuat di lingkungan Muhammadiyah Suranenggala.

Program pembelajaran bahasa Arab ini dilaksanakan secara rutin dan terstruktur di wilayah Bungko Lor, tepatnya di lingkungan PRM Bungko Lor. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama yang terbuka bagi kader, simpatisan, serta masyarakat umum yang memiliki minat dalam memperdalam bahasa Al-Qur’an.

Pembelajaran dipandu langsung oleh Ustaz Dr.Amin Basir, seorang akademisi dan praktisi pendidikan Islam yang berpengalaman. Dalam setiap pertemuan, peserta tidak hanya diajak memahami dasar-dasar nahwu dan sharaf, tetapi juga diarahkan untuk mampu membaca, memahami, dan mengkaji teks-teks keislaman secara lebih mendalam.

Dalam keterangannya, Ust.Warjo menegaskan bahwa penguasaan bahasa Arab merupakan kebutuhan penting bagi kader Muhammadiyah, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. “Bahasa Arab bukan sekadar bahasa, tetapi pintu untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara lebih otentik. Dengan literasi yang baik, kader Muhammadiyah akan lebih kokoh dalam beragama dan bijak dalam berdakwah,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa gerakan literasi ini merupakan bagian dari penguatan ideologi dan kaderisasi Muhammadiyah. Dengan memahami sumber ajaran secara langsung, diharapkan kader tidak mudah terpengaruh oleh pemahaman yang keliru serta mampu menyampaikan dakwah yang mencerahkan.

Sementara itu, Wasikin menyampaikan bahwa antusiasme peserta terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurutnya, hal ini menjadi indikator bahwa kesadaran akan pentingnya literasi bahasa Arab mulai tumbuh di tengah masyarakat. “Kami ingin membangun budaya belajar yang berkelanjutan. Bahasa Arab adalah fondasi penting untuk mencetak kader yang berilmu dan berakhlak,” ungkapnya.

Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi intelektual antar kader Muhammadiyah, di mana diskusi dan kajian berlangsung secara dinamis dan konstruktif. Para peserta tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga didorong untuk mempraktikkan kemampuan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam memahami teks-teks keagamaan.

Melalui program ini, PCM Suranenggala berharap dapat melahirkan generasi kader yang unggul, berwawasan luas, dan memiliki kedalaman ilmu agama. Gerakan literasi bahasa Arab ini diharapkan terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi cabang-cabang Muhammadiyah lainnya dalam membangun tradisi keilmuan yang berkemajuan.